Search This Blog

Loading...

Tuesday, May 4, 2010

Anak Boss

Bossku mengantar Mariana ke lapangan terbang, namun dia segera pergi lagi tanpa bertemu denganku karena dia punya tugas penting yang segera dibereskan. Hal ini kutahu dari Mariana ketika kami bertemu di VIP lounge.
Akupun segera mempersilahkan Mariana untuk duduk dan kuambilkan secangkir kopi yang segera kusodorkan kepadanya. Diapun menyambutnya sambil tersenyum manis kepadaku dan ia juga menyodorkan kepadaku sebungkus rokok kesukaanku.
“Dari Papah...,” katanya manis.
Kuambil segera rokok itu dan Aku berpikir pula kalau Bossku itu ternyata begitu perhatian, hingga rokok kesukaanku ia tahu.
“Terima kasih...nanti bilang ke Papahmu ya...!,” kataku sambil tersenyum senang.
Dan saat kami berada didalam pesawat, Mariana lebih banyak diam, begitu pula Aku yang sama-sama letih. Maklumlah Aku ini sepanjang pagi begitu sibuk sekali dikejar-kejar pekerjaan, sebelum Aku pergi ke lapangan terbang, takut ketinggalan pesawat, apalagi saat itu Bossku mewanti-wanti Aku supaya Aku bisa menjaga putrinya yang saat ini duduk sebangku denganku.
Begitu pula dengan Mar, sapaan yang biasa Aku katakan kepada Mariana, putri Bossku itu. Mungkin dia keletihan dengan segala urusan studynya yang Aku tahu begitu padat.
Sepanjang penerbangan itu kami berdua sama-sama tertidur dan baru sadar tatkala seorang pramugari meminta kami untuk mengenakan sabuk dan menegakkan sandaran kursi karena pesawat yang sebentar lagi akan mendarat.
Setelah pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan begitu mulus, kami keluar dan kudapati cuaca hari itu telah mulai gelap.
Dan kamipun segera mencari Limousine yang sebelumnya telah kami pesan di tempat kedatangan.
Setelah sedan mewah itu ketemu, Aku dan Mariana segera menuju ke hotel yang juga telah kami pesan dan hotel ini bisa dibilang sebagai hotel langganan Bossku disaat dia bertugas kesini.
Tak lama pula, sampai juga kami berdua ke hotel itu dan kami mendapat sambutan dari pihak hotel. Nampak Pak Ramsey, seorang petugas hotel yang telah Aku kenal baik sedang berdiri seakan menunggu kedatangan kami.
Dengan muka ramah, dia segera memberitahuku bahwa kamar yang telah di booking oleh Bossku itu telah siap.
Namun Aku segera menarik tangan kiri dia, sambil sedikit berbisik kepadanya.
Pak Ramsey pun tersenyum ramah kembali dan iapun segera membawa kami berdua ke sebuah Villa yang letaknya agak terpencil dipinggir hutan dengan diikuti oleh seorang petugas lain yang bertugas membawa koper kami.
Setelah kami sampai di Villa yang dituju itu, dia segera membuka pintu dan meminta petugas yang membawa koper itu supaya memasukkan seluruh koperku.
Sementara kulihat wajah Mar agak tercengang dengan apa yang Aku lakukan. Dia nampak senang dan gembira mendapatkan Villa yang begitu teduh tersebut.
Merasa semuanya telah beres, Pak Ramsey yang diikuti oleh seorang petugas itupun berpamitan untuk pergi. Sebelum pergi, Akupun tak lupa mengucapkan terima kasih sambil memberikan uang sebagai tip kepadanya. Iapun menyambut uang tip itu sambil tersenyum dan berbisik kepadaku.
“Jangan lupa ya Pak, hanya sehari saja...,” katanya ramah.
Akupun mengangguk setuju, karena memang sebenarnya Villa itu telah di booking oleh orang lain.
Setelah kedua petugas hotel itu berlalu, Akupun segera memanggil Mar untuk meminta dia memilih kamar yang akan ia tempati.
“Wah hebat juga Oom ini...nggak bilang-bilang kalau punya relasi disini hingga bisa menyewa Villa yang bagus ini..,” katanya sambil tersenyum manis sekali.
“Nggak kok, Mar!, itu kenalan Oom semasa kuliah dulu. Makanya dia bisa menolongku,” jawabku datar.
“Sudah, sekarang cepat kamu hubungi Papah dan Mamimu, katakan pada mereka kalau kita telah sampai. Dan pandai-pandailah berkata, karena kita tak menginap di tempat yang Papahmu sewa, kalau tidak mereka akan berprasangka lain terhadap kita...,” sambungku kepada Mariana.
Mariana segera menelpon orang tuanya, dan kudengar saat itu diua sedang bercakap dengan ibunya namun Aku tak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Tahu-tahu tanpa sempat kusadari, dia telah memelukku sambil berbisik kepadaku kalau semuanya telah beres.
Aku segera mengganguk sambil tersenyum senang kepadanya yang begitu manja bergelendot di pundakku.
“Mar..!, mau makan dulu atau mandi dulu nih...?,”
“Ya...mandi dulu dong, biar segar...kalau makan kapanpun khan biiisa...,” jawabnya.
Setelah itu diapun segera berlalu menuju ke kamar tidurnya untuk mengganti pakaian sebelum mandi.
Sedang asyik-asyiknya Mariana mandi, Akupun segera masuk pula ke kamar mandi itu, walau saat itu kulihat Mariana agak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba itu, tetapi bibirnya kembali tersenyum kearahku.
“Kalau Oom mau mandi bersama, boleh khan Mar... ?”
Tanpa bicara sedikitpun, diapun berdiri di tengah-tengah bathtub untuk memberi ruang kepadaku masuk. Namun Aku segera berhenti disaat mataku memandang kearah sesosok tubuh yang telah bertelanjang bulat dihadapanku dengan kedua tangannya menutupi bukit kecil diselangkangannya. Begitu pula kulihat buah dadanya nampak bergelayut indah.
“Bukalah, kenapa malu Oom lihat !, Mar juga nanti bisa melihat kepunyaan Oom..,” kata-kataku agak bergetar karena menahan rangsangan.
“Aku malu, Oom...sebab punyaku hanya memiliki jambut yang sedikit seperti anak kecil...,” jawabnya polos.
“Itu nggak jadi masalah buat Oom, Mar !. Nanti juga tumbuh sendiri koq. Mungkin pula hal itu adalah faktor keturunan dari Mamimu atau keluargamu..,” kataku pula.
“Nggak, kalau punya kakak dan Mamiku begitu subur hingga mereka rajin mencukurnya kalau bulunya telah mulai panjang..., Aku tahu koq!”
“Buka aja, nggak usah ditutupi begitu...,” kataku lagi kepadanya.
Setelah Aku berkata seperti itu, Marianapun segera melepaskan kedua tangannya dari bukit kecil miliknya itu. Dan tampaklah bagian tubuh yang paling sensitifnya itu. Begitu tembam, putih dengan bulu jambutnya yang memang begitu jarang. Bibir kemaluannya nampak memerah dan sedikit kulihat biji kelentitnya mengintip dibalik celah sempitnya itu.
Lalu Aku mendekat kearahnya yang masih berdiri didekat Bath Tub itu dan tanganku segera menarik lembut bibir vaginanya untuk melihat biji kelentitnya yang begitu merangsang. Dan kulihat biji kelentitnya agak panjang dan begitu merah mengkilat.
Begitu pula yang kurasakan saat itu, kemaluanku sudah mulai mengencang keras berkedut-kedut. Dan tanpa kusuruh, Mariana segera mengusap kemaluanku yang masih berada di balik celana itu sambil berbisik pelan kepadaku.
“Punya Oom besar dan panjang, Aku kurang suka yang kecil..”
“Nanti kamu bisa tahu sendiri kalau punyaku bisa membuatmu ketagihan…,” kataku bercanda.
Nampaknya saat itu Mariana begitu penasaran kepadaku, maka sambil menggosok-gosok badannya, Akupun kembali berkata kepadanya.
“Semua wanita yang berkenalan dengan Oom, selalu memuji punya Oom ini dan tak jarang juga mereka akhirnya ingin merasakannya. Kalau Mar suka, bolehlah mencobanya nanti tapi Oom tak mau memaksamu…,” kataku sedikit terus terang.
Mar merebahkan kepalanya, lalu ku sambut dan kami saling berciuman sepuasnya sambil meneruskan mandi kami itu.
Aku mengeringkan badan Mar sambil meminta ia berpakaian dan Aku segera mengikuti dibelakangnya saat dia berjalan menuju ke arah kamarnya. Dan Akupun masuk kekamarku juga.
Aku hanya memakai celana pendek dan kaos lengan pendek disaat kudengar Mariana memanggilku ke kamarnya. Rupanya saat itu dia memintaku untuk membantu mengeringkan rambutnya sambil dia membedaki wajahnya yang cantik. Dan saat itu dia hanya memakai bathrobe tanpa mengikatkan tali di pinggangnya.
Aku jadi tak tahan dengan hal itu, lalu ku putar sedikit badannya untuk menghadapku dan tanpa berkata apa-apa Mar mencium bibirku dengan rakusnya.
Aku segera membopong tubuhnya yang seksi itu menuju ke kamarku, karena di kamarku ranjangnya lebih luas hingga bisa lebih leluasa disaat nanti Aku menggumuli tubuh gadis pingitan ini.
Saat kubopong itu, seluruh pakaiannya telh terlepas dari tubuhnya yang kini begitu polos. Sedangkan tangannya bergelayut manja di tengkukku.
“Oom…puasilah Aku, namun lakukan dengan lembut karena Aku masih perawan, takut nanti punyaku bias terkoyak….”
“Jangan takut, Mar!, Oom tahu apa yang harus Oom lakukan…percayalah, Mar nanti akan mau lagi kalau terkena punya Oom ini…,” jawabku dengan sedikit bercanda pula.
Setelah kami sampai di ranjang kamarku, kamipun segera bergumul dengan saling menjilat tubuh masing-masing. Ternyata pandai juga dara ini melakukannya.
Kamipun berputar, lalu kami melakukannya dengan posisi 69 dan kulihat lubang vaginanya yang sempit itu telah begitu basah karana rangsanganku, dengan biji kelentitnya yang semakin nampak memerah disaat tadi menerima hisapan bibirku. Hingga Akupun tak tahu pasti, sudah berapa kali dia orgasme karenanya.
Kulihat pula kalau mulutnya yang kecil itu tak mampu memasukkan seluruh batang kemaluanku yang telah membesar dan menegang kencang. Hingga agak tersedak pula Mar saat batangku mendesak kekerongkongannya.
Aku berhenti, lalu kubaringkan tubuh dara ini sambil punggungnya sedikit kuganjal dengan bantal yang dialasi sprei warna putih.
Lalu kedua kakinya sedikit kutekuk dan kusandarkan pada bahuku. Dan setelah itu kuarahkan ujung kepala penisku untuk mengusap-usdap biji kelentitnya.
Mulut vaginanya yang masih tertutup rapat itu begitu nampak merangsang. Karena merasa agak takut, iapun agak menjepitkan lubangnya, namun saat itu air pelicin yang keluar dari lubang kewanitaannya telah semakin banyak keluar membasahi celah tersebut hingga lubang duburnya juga telah mulai basah pula.
“Sekarang Oom akan mulai, namun kalau Mar sakit, tolakkan kaki Mar pada badan Oom..ya!”
Ia hanya menganggukkan kepalanya, nggak tahu apakah ia mengerti atau tidak dengan omomnganku itu.
Kemudian setelah itu, Aku mulai menguakkan labia majoranya, lalu kuletakkan ujung kepala penisku dimulut rahimnya sambil Akupun mulai menekan-nekan halus. Dan perlahan kepala penisku itu membelah celah sempit milik Mariana untuk pertama kalinya sedikit demi sedikit hingga sampai pada selap[ut daranya yang terasa begitu pejal.
Mariana agak tersentak juga sambil membuka matanya disaat ujung kemaluanku mulai menyentuh selaput dara miliknya.
Aku tersenyum kearahnya yang saat itu wajahnya nampak memerah menahan rasa yang sedang terjadi di vaginanya.
”Oom sekarang telah mendapatkannya...,” kataku.
Ia nampak mencoba membalas senyumanku namun jelas terbayang kegusaran di wajahnya yang cantik itu.
Aku kembali menarik batang kemaluanku, lalu ujung kepala kemaluanku ku letakkan tepat di celh bibir vaginanya yang tembam membukit itu. Dan setelah itu Aku juga mulai memasukkannya dan menghentakkan pantatku agak kuat. Saat itu ujung kemaluanku mulai menyelinap masuk dan terasa kemaluanku seperti kembali menemui sesuatu yang pejal.
Saat itu kulihat Mariana agak terkejut dan tiba-tiba pula tubuhnya mencoba memberontak sambil tangannya memgang tanganku.
“Aduuuhhh...sakit Oom, punya Oom besar sekali..oohhhh... berhenti dulu Oomm...,” rintihnya keras.
Kuhentikan sebentar penetrasi kemaluanku itu, namun kemudian setelah dia terlihat agak tenang, dengan agak kuat Aku tekan kemaluanku lagi kedalam liang senggamanya itu.
Dan ketika kemaluanku melesak semakin dalam, kurasakan kemaluanku itu seperti menyobek sesuatu yang begitu nikmat kurasakan, namun tak demikian yang dirasakan oleh Mariana. Karena disaat yang bersamaan kudengar Mariana menjerit keras sambil tubuhnya berguncang-guncang.
“Aduuhhhh...Oooommmm...aaahhh...uuhhhh...sssaaakiitt...,” suara rintihannya begitu menyayat hati.
Sebentar kulihat dia menangis dan dari kelopak matanya yang terpejam itu mengalir air mata.
“Tahan ya sayang...nanti juga nggak terasa...,” kataku coba menghiburnya.
Kembali kuhentikan hujaman kemaluanku itu karena Akupun merasa sangat kasihan kepadanya. Namun saat itu kemaluanku masih tetap berada didalam liang senggama miliknya itu.
Beberapa menit kemudian, setelah tangisannya mereda dan juga rintihannya telah tak terdengar lagi. Dengan pelan-pelan kemaluanku kutarik keluar, namun sebelum kemaluanku terlepas, Aku kembali dengan pelan pula menekannya semakin dalam.
Terasa kemaluanku seperti memasuki sebuah lorong yang begitu seret dan sempit namun terasa hangat berdenyut.
Dan saat itu punggung Mariana pun ikut terangkat agak tinggi, namun saat itu dia tak terlihat kesakitan lagi.
Ia memandangku sambil mengusap air matanya yang keluar akibat menahan rasa sakit dan pedih disaat Aku memecahkan selaput dara dia untuk pertama kalinya.
Aku meraih kepalanya yang segera kusandarkan kedadaku dengan kemaluanku telah jauh terbenam didalam lubang kewanitaannya yang terasa menjepit erat kemaluanku.
Dan secara perlahan-lahan Aku mulai lagi menggerakkan kemaluanku keluar masuk dengan sedikit demi sedikit.
Kulihat saat itu Mariana sudah mulai tenang, tak lagi meronta-ronta seperti tadi.
Maka kuturunkan kedua kakinya dengan lebih mengangkang agar memudahkannya menerima setiap tusukan batang kemaluanku yang akan kulakukan.
Tanpa menunggu waktu lagi, Akupun memulai gerakan mendorong dan menarik kemaluanku kedalam liang senggamanya dengan agak kuat, walaupun pada mulanya kurasakan agak berat dan masih terasa susah.
Liang memeknya begitu seret dan kecil hingga kemaluanku juga terasa agak susah untuk bisa memasukinya semakin dalam. Namun waktu itu, kurasakan pula Mariana semakin merenggangkan kedua pahanya kesamping hingga kemaluanku juga sedikit demi sedikit pula mulai melesak semakin dalam pada liang kenikmatannya itu.
Semakin lama gerakan tarik ulur yang kulakukan pada lubang vaginanya, terdengar Mariana juga mulai mendesah, mengerang dan merintih-rintih menahan hujaman dan tusukan serta desakan batang kemaluanku yang semakin besar dan keras.
“Ooohhhh...Ooommm...eeennaakk...enak sungguh...oohhh...teruss Oommm...senggamalah Akuu...oohhh.... senggamalah Aku yang keraasss...”
Terdengar dari mulutnya, Mariana meracau-racau sambil tubuhnya bergetar menahan kenikmatan yang mulai membakar tubuhnya.
Tubuhnya mengkilat oleh peluh yang membasahi tubuh telanjangnya. Dan kulihat bulu-bulu ditangannya yang putih bersih itu nampak berdiri.
Akupun semakin mengayunkan pantatku semakin cepat dan keras, hingga kemaluanku itu semakin menusuk-nusuk liang kenikmatannya yang semakin nampak membanjir itu.
Dan tak lama setelah itu, tiba-tiba Mariana memeluk tubuhku dengan begitu erat sambil kurasakan kemutan liang memeknya seakan mencengkeram kemaluanku dengan kuat sekali.
“Oooohhh...Ooommm...Akuuu...uuuhhhh...nikmaaatt...aahhh...aduh Oomm..nikmaaattt..Ooommm...”
Suara erangan dan rintihannya keluar berulang-ulang sambil cengkeraman tangannya semakin keras.
Aku tahu kalau saat itu dia sedang mencapai puncak kenikmatannya. Maka Aku biarkan gadis muda anak Bossku ini menikmati orgasmenya sambil kemaluanku Aku biarkan terendam jauh didalam lubang memeknya.
Lalu, tak lama kemudian kulihat Mar membuka matanya sambil tersenyum kearahku, meskipun dahinya masih berkerut seakan dia masih belum sadar antara kenyataan dan mimpi yang baru saja ia rasakan.
“Begini rasanya ya Oom?, begitu nikmat sekali hingga Aku tak kuat menahannya….Oom sangat perkasa sekali…!,” ujarnya dengan dadanya masih nampak naik turun.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil memutarkan badannya untuk kembali kuhujamkan lagi kemaluanku itu.
“Ahh…Oommm...terasa bedgitu dalam..oohhhh...terus Oomm..,” rayunya manja sambil sedikit mendengus-dengus.
Memang saat itu kemaluanku semakin dalam terbenam, didalam celah yang hangat itu, namun rasa nikmatpun semakin bertambah pula. Dan Aku menekan semampu yang Aku bisa dan sedalam mungkin sambil kuhentakkan kembali pantatku.
Tak lama kemudian, Mariana kembali mendesah dan mengerang-ngerang keras disaat dia kembali mencapai orgasmenya yang kedua.
Maka waktu itu kedua tubuh kami sudah sama-sama basah oleh peluh apalagi saat itu AC di kamar Villa tersebut sengaja tak kuhidupkan agar menambah sensasi.
“Mar!, masih kuat nggak... ?,” tanyaku dan dia hanya mampu memandangku tanpa berkata.
Lalu kubalikkan saja tubuhnya itu hingga tubuhnya kini menungging. Namun dia agak keberatan, rupanya saat itu dia tak mau kusenggama dari belakang. Maka Aku telentangkan lagi tubuhnya di kasur itu sambil Aku berbisik pelan kepadanya.
“Mar !, Oom ingin Mar merasakan sekali lagi…Oom akan lakukan yang terbaik dan yang paling nikmat…,” kataku.
Setelah itu Akupun segera menopang sebelah kakinya sambil secara perlahan Aku mulai mendayung kembali dan Akupun dapat merasakan kalau kini Mariana sudah dapat mengimbangi dayunganku itu.
Aku mempercepat tusukan dan hentakanku sambil kuangkat sedikit punggungnya. Nafasnya mendengus-dengus sambil dari mulutnya kerap terdengar desisan demi desisan yang begitu menggairahkan.
Semakin lama, suara desisan, erangan dan rintihannya semakin terdengar keras menggema di kamar Vila tersebut. Dan Aku tahu kalau kali ini Mariana sudah mendekati puncak kenikmatannya lagi.
Melihat dia seperti itu, Aku semakin kuat menghujamkan kemaluanku semakin dalam dan sekeras mungkin kedalam liang rahimnya supaya ia benar-benar merasakan sebuah sensasi yang luar biasa dari persenggamaan untuk pertama kali buatnya ini.
Terasa Mariana mencoba mengimbanginya dengan mengemutkan lubang kemaluannya yang memberikan kemutan-kemutan kecil disaat kemaluanku menghujam kedalam liang senggamanya itu.
Kudekap tubuhnya dengan erat sekali sambil membiarkan kedua kakinya kini seakan sedang membelit punggungku. Lalu kubenamkan lagi kemaluanku itu semakin dalam.
Namun tanpa mampu kutahan, tiba-tiba kurasakan otot-ototku mengejang dan secara tiba-tiba pula dari liang kencingku menyemprot deras spermaku yang memuncrat kedalam liang senggama gadis muda ini hingga tubuhnya bergetar menahan gelombang birahi yang kulepaskan.
Semprotan spermaku begitu deras dan banyak menyemprot kedalam liang memeknya itu, apalagi sudah tiga hari Aku tak bersetubuh dengan istriku.
Beberapa menit kemudian, perlahan-lahan kulepaskan tubuhnya yang sudah lemah tak bertenaga itu terkapar diatas kasur. Hanya dadanya turun naik dengan nafas yang mendengus-dengus seperti dia habis melakukan perjalanan jauh. Begitu pula batang kemaluanku yang juga mulai lembek itu kutarik keluar dari liang memeknya.
Lubang memeknya kuperhatikan kini agak terbuka sambil kulihat lendir putih kemerah-merahan meleleh keluar menuruni celah-celah vaginanya. Dan sebagian lendir itu mulai menetes keatas sprei putih yang berada dibawah tubuhnya.
Segera kucium dahinya sambil kubisikkan rasa terima kasihku kepadanya. Diapun segera membuka matanya sambil membalas menciumku dengan bibirnya yang begitu hangat serta mesra kurasakan.
Kami berdua akhirnya tertidur saling berdekapan dengan tubuh yang sama-sama masih telanjang bulat dan basah oleh peluh juga oleh lendir-lendir yang kami lepaskan tadi.
Setelah beberapa jam kemudian, Aku terbangun disaat kurasakan perutku terasa agak lapar karena seharian perutku tak kuperhatikan karena asyik bercumbu dengan gadis muda anak bossku ini.
Lalu kubangunkan Mariana yang nampak masih terlelap dalam tidurnya.
Dan saat dia terbangun, dia agak terkejut sambil berusahja menutup tubuhnya yang bugil itu dengan selimut.
”Tak usah ditutupi, Mar!. Oom suka melihat tubuhmu yang telanjang seperti itu...,” godaku sambil tersenyum kepadanya.
"Cepat Mar kita makan dulu..agar bertenaga lagi...,” sambungku.
”Nantilah Oom…!, Aku masih muda dan tenagaku masih kuat kok. Aku ingin lagi….”
Gila!, cewek muda ini ternyata maniak sex juga, padahal dia ini baru pertama kali bersetubuh. Lagi pula pikirannya kini hanya terfokus pada masalah kenikmatan itu saja.
"Iya..nanti kita ulangi lagi, tapi kalau nggak makan, gemana mau main lama-lama…,” kataku.
Setelah itu kubimbing dia menuju ke kamar mandi dengan sama-sama bertelanjang bulat, dan segera kusuruh dia membersihkan tubuhnya yang belepotan oleh peluh dan sisa-sisa lender yang sudah agak mongering.
“O ya, Mar!, tadi Oom keluarkan sperma didalam vaginamu, bagaimana kalau nanti Mar hamil...?,” tanyaku agak serius.
“Nggak apa-apa, Oom!. Asal nggak sering saja, Aku kira hal itu tak akan terjadi….,” jawabnya enteng sambil tersenyum manis sekali.
Setelah habis mandi, kami berduapun bersiap menuju ke coffe house untuk memesan makanan.
Kulihat Mariana memakan makanan yang dipesan dengan begitu lahap sekali hingga makanan itu tak bersisa.
Selesai makan kami kembali ke villa, dan Aku menghisap rokok yang kemrin diberi olehnya. Tak lama Mariana membawa dua gelas kopi dengan sepiring Anggur.
Diapun segera menyuapi Aku dengan sebiji demi sebiji Anggur yang ia masukkan ke dalam mulutku. Aduh...begitu romantis apa yang ia lakukan itu. Aku juga sempat berpikir, kalau saja diua sudah menyelesaikan sekolahnya, akan kupinang dia ini ke orang tuanya yang juga bossku untuk kujadikan istri keduaku.
"Oom!, Aku mau tanya tentang istrimu sedikit, boleh nggak..?”
“Kenapa gitu dengan istriku…?,” tanyaku cepat.
"Dibandingkan Mar, istriku tak sebanding. Apalagi Aku tahu kau orang kaya, pandai lagi…,makanya cepat cari calon suami…,” godaku.
"Tetapi Aku saat ini sudah memiliki seseorang yang cocok buat Mar, tapi dia ini kayaknya tak sadar kalau Aku mencintainya…,” jelas Mariana.
"Kalau begitu, Mar bilang aja kepada Oom, nanti Oom kasih tahu Papamu. Percayalah Papamu akan percaya pada Oom tentang pria pilihanmu itu…”
Dia dating menghampiriku sambil kemudian dia memeluk leherku dengan begitu mesra dan lembut.
"Masalahnya…, pria yang Mar suka dan cintai itu, ialah Oom sendiri...”
Mendengar dia berkata seperti itu Aku agak terkejut juga, walau Aku tahu kalau sejak tadi dia ini hanya memancingku.
"Oom sudah tua, tak pantas Oom buat Mar…”
“Tapi Oom kelihatan masih handsome dan punya Oom juga masih sangat perkasa sekali…bolehkan Oom…?,” rayunya semakin manja.
"Oke kalau begitu. Namun Mar harus menyelesaikan dulu kuliahmu itu dengan nilai terbaik…nanti Oom akan pinang Mar untuk Oom jadikan istriku…,” tegasku sedikit menggombal sebenarnya.
Setelah mendengar kata-kataku itu, sekali lagi dia mencium bibirku dan kamipun akhirnya kembali berkecupan serta dengan nafsu yang mulai bangkit kembali, perlahan-lahan kamipun melangkah menuju ke kamar tidur.
Tanpa banyak bicara lagi, setelah sampai dikamar kami berdua kembali membuka seluruh pakaian masing-masing hingga tubuh kami telah sama-sama bugil kembali. Lalu kami berdua bergumul lagi seperti saat-saat pertama kali tadi.
Kakinya terjuntai di pinggiran ranjang dan Aku terus menikamkan betang kemaluanku kedalam liang senggamanya. Dengan sekali hentak, batang kemaluanku yang telah mengeras itupun melesak kedalam liang kenikmatan Mariana.
Punggungnya sebentar kulihat agak terangkat keatas sepertinya dia masih merasakan sebuah kesakitan. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena tak lama kemudian dia juga mulai dapat menerima tikaman kemaluanku itu apalagi saat itu liang vaginanya telah basah dan licin oleh lendir-lendir yang mulai membasahi lorong sempit miliknya itu.
Kemudian kulipat kedua kakinya sambil meminta supaya dia memegangi kedua kaki yang terlipat itu. Dengan posisi ini nampak liang vaginanya yang sedang disodok oleh batang penisku, juga liang duburnya begitu menggairahkan sekali.
Aku terus memacu penisku dan menggasak lorong sempit miliknya sambil mengusapkan cairan pelicin pada lubang duburnya.
"Oom mau menyetubuhi liang anusku?, uuhhh...jangan Oom nanti sakit...,” katanya sambil mendesah.
Ternyata saat itu Mariana masih bimbang juga, mungkin dia takut kalau liang duburnya itu akan terkoyak saat dimasuki oleh kemaluanku yang besar dan keras ini.
"Oom akan lakukan perlahan-lahan..sayang!, Oom juga tak akan merusak punyamu itu...,” hiburku sambil membujuknya.
Setelah itu, Aku terus mencabut keluar batang penisku itu dari dalam liang memeknya, dan secara perlahan penisku itu kutempelkan tepat pada lubang duburnya.
"Mar sayang tahan sedikit kalau sakit ya!, tapi kalu terasa sangat sakit, bilang saja...,” tambahku lagi sambil mulai menekan penisku kelubang duburnya itu.
Kurasakan kalau lubang dubur miliknya itu telah sangat licin sekali karena cairan yang kuoleskan tadi.
Namun agak lama juga Aku berusaha memasukkan ujung penisku itu karena terasa liang duburnya itu seperti dijepit olehnya.
Barulah ketika kulihat Mariana mengendurkan jepitan liang duburnya, ujung kemaluanku mulai melesak kedalam linag yang begitu sempit sekali, lebih sempit dari liang perawannya.
Karena itu, Aku semakin menekan batangku yang kian tegang dan keras itu mendesak kedalam liang dubur miliknya sampai ujung kemaluanku kini telah hilang dari pandangan terjepit oleh liang anusnya.
Saat penisku semakin kutekan lagi, terlihat mulut Mar mulai ternganga sambil menahan desakan penisku.
"Ooohhh....uuhhhh...sakiitt..Ooommmm...lebih sakit dari tadi..oohhhh...,” rintihnya pilu.
Aku tak menjawab kata-katanya itu, Aku hanya menganggukan kepala sambil mengeluarkan kembali kemaluanku itu. Dan saat kemaluanku terlepas dari liang duburnya, nampak liang duburnya berlubang agak melompong beberapa saat sebelum kembali mengkerut.
Beberapa menit kemudian, kembali Aku mencoba membenamkan kemaluanku itu lagi sambil kutekan dan menariknya secara perlahan-lahan agar Mariana bisa memberi respon.
Dan disaat dia melonggarkan lagi jepitannya, dengan segera pula kutekan kemaluanku itu dengan agak keras kedalam liang dubur itu. Seketika pula Mariana menjerit histeris saat merasakan kemaluanku menyeruak semakin dalam pada liang anus miliknya yang hampir membuat kakinya terlepas. Untung saat itu dengan reflek Aku sempat menahannya.
Lalu Aku menekankan kembali semakin keras batang kemaluanku itu hingga rasanya batangku itu sudah mentok pada liang yang mencengkeram erat itu. Dan tangisan Mariana semakin keras namun Aku sudah tak peduli lagi serta Aku semakin memaju mundurkan batang penisku keluar masuk pada lubang anus Mariana.
Tak mampu lagi kukatakan, betapa ketatnya lubang yang sedang kusenggama ini. Apalagi lubang anus milik Mariana ini baru pertama kali ini ditusuk oleh benda bulat milik seorang pria. Ditambah pula saat ini Marianapun sebenarnya tak rela kalau lubang belakangnya Aku senggama, oleh karena itu dia semakin terasa menyempitkan lubang tersebut yang membuat kemaluanku semakin terjepit ketat.
Aku meneruskan kembali hujaman demi hujaman kemaluanku itu, sementara tangisan Mariana makin lama makin mereda dan iapun memandang kearah wajahku.
Kulihat dia seperti mengernyitkan alisnya, dia seakan telah pasrah dan dia juga tersenyum walau seperti dipaksakan.
Air matanya kuseka sambil kukecup bibirnya yang ranum itu dengan lembut dan mesra.
Aku merasakan kalau saat itu gairahku semakin meledak-ledak, apalagi disaat melihatnya yang pasrah seperti itu. Maka tanpa ampun lagi, kupacu kembali semakin keras dan kuat batangku keluar masuk pada lubang dubur Mariana disaat kurasakan ada desakan yang amat dahsyat didalam tubuhku. Tak kuhiraukan lagi erangan dan rintihan Mariana yang berulang-ulang disaat merasakan lubangnya ditusuk dan dihujam oleh kemaluanku yang kian membesar dan menegang kencang.
Aku semakin menelentangkan tubuhnya yang sudah basah itu sambil kubelitkan kedua kakiku padakedua kakinya yang terkangkang luas, serta kutusukkan batang penisku sedalam mungkin sebelum akhirnya desakan ditubuhku semakin tak mampu lagi kutahan.
Beberapa detik kemudian, tubuhku menegang kencang dan tak lama Akupun mengejan.
Tersemburlah cairan spermaku yang begitu deras dan banyak menyemprot langsung kedalam liang dubur Mariana.
”Oouuuuhhh...ssaaaayyyaannngg...ooohhhhh...sshhhpphh...aaahhh...,” erangku begitu panjang disaat kemaluanku menyemprotkan sperma kedalam liang anus Mariana itu.
Begitu nikmat rasanya ketika itu, dan baru kali ini Aku merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang begitu dahsyat. Terasa otot-ototku seakan ikut tercerabut dari tubuhku disaat Aku melepaskan kenikmatan yang tiada bandingannya itu.
Pada waktu yang bersamaan kulihat pula Mariana menggigit ujung bantal menahan desakan tubuhku yang sangat kuat dan bertubi-tubi. Kalau saja dia tak menggigit ujung bantal itu, dapat kupastikan jeritannya akan keras keluar dari mulutnya membelah malam.
Setelah beberapa menit kemudian, Aku mencabut batang kemaluanku dengan begitu lelah kurasakan. Lalu Mariana membalikkan tubuhnya dan secara perlahan-lahan dia mengurut-urut kemaluanku yang telah mulai mengerut sambil menjulurkan lidahnya serta menjilati sisa-sisa spermaku yang masih melekat diujung kemaluanku. Sambil itu kulihat juga pahanya begitu basah oleh lelehan air maniku yang keluar. Mariana terus mengulum batangku itu hingga batangku benar-benar mengendur sebelum dia melepaskannya.
“Aku mencintaimu, Oom...,” katanya yang kemudian kami berdua berdekapan hingga tertidur sambil sama-sama bertelanjang bulat.

0 comments:

Post a Comment